Makalah filsafat mengenai hermeneutika dan psikoanalisa

vina191214.blogspot.com

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 

Sering kali manusia merasakan perbedaan keputusan dalam diri, baik bentuk sadar maupun tidak sadar. Terjadi kebimbangan dan kebingungan dalam mengambil keputusan karena bertolaknya isi hati nurani dengan kenyataan yang sedang dialami ketika mengambil sebuah keputusan. Metode hermeneutika dan fenomenologi adalah metode alternatif bagi paradigm positivisme yang banyak digunakan dalam melakukan penelitian khususnya masalah humaniora dan sosial-budaya. Psikoanalisa sering disebut sebagai: 1) metode psikoterapi, 2) metaspikologi dan 3) ars interpretendi (seni penafsiran). Psikoanalisa adalah aliran/mazhab psikologi yang menggunakan metode hermeneutika untuk menyingkapkan hal-hal tidak sadar yang terdapat dalam mimpi (ketidak-sadaran) tetapi dianggap sebagai satu teks.

Dalam hal ini Sigmund Freud memberi sumbangan pemikiran bagi filsafat manusia yang berbeda dengan pandangan para ilmuan/filsuf sebelumnya yang lebih menekankan unsur rasionalitas (Descartes) atau yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik (teori tabularasa, Locke). Freud justru mengemukakan pandangan yang revolusioner dengan mengemukakan bahwa manusia dikendalikan oleh naluri instingtual yang irasional.



B. Rumusan Masalah

Makalah ini akan membahas tentang :

1. Bagaimana Asumsi Dasar tentang Manusia dalam Psikoanalisa Freud?
2. Bagaimana Asumsi Hermeneutika dan Psikoanalisa?
3. Bagaimana Metode Hermeneutika dan Analisis Mimpi?
4. Bagaimana Manusia dan Simbol?
5. Bagaimana Teori Kritis yang Emansipatoris?
6. Bagaimana Psikoanalisa dan Hermeneutika Dalam?
7. Bagaimana Kritik terhadap Psikoanalisa?
8. Bagaimana Psikoanalisa dan Perkembangan Teori Baru?


C. Tujuan

Makalah ini disusun bertujuan untuk mengetahui :
1. Asumsi Dasar tentang Manusia dalam Psikoanalisa Freud
2. Asumsi Hermeneutika dan Psikoanalisa
3. Metode Hermeneutika dan Analisis Mimpi
4. Manusia dan Simbol
5. Teori Kritis yang Emansipatoris
6. Psikoanalisa dan Hermeneutika Dalam
7. Kritik terhadap Psikoanalisa
8. Psikoanalisa dan Perkembangan Teori Baru


lihat juga "etika pendidikan jenjang pendidikan dasar"


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengantar 

Psikoanalisa sering disebut sebagai: 1) metode psikoterapi, 2) metaspikologi dan 3) ars interpretendi (seni penafsiran). Sejak psikoanalisa lahir, aliran ini tidak pernah berhenti digugat. Namun demikian, psikoanalisa secara luas mempengaruhi bidang-bidang ilmu pengetahuan lain, seperti: sastra, feminism, filsafat (filsafat manusia dan ketuhanan) dan lain-lain.
Metode hermeneutika dan fenomenologi adalah metode alternatif bagi paradigm positivisme yang banyak digunakan dalam melakukan penelitian khususnya masalah humaniora dan sosial-budaya. Psikoanalisa adalah aliran/mazhab psikologi yang menggunakan metode hermeneutika untuk menyingkapkan hal-hal tidak sadar yang terdapat dalam mimpi (ketidak-sadaran) tetapi dianggap sebagai satu teks.

Sigmund Freud (1856-1939) dianggap memberi sumbangan pemikiran bagi filsafat manusia yang berbeda dengan pendangan para ilmuan/filsuf sebelumnya yang lebih menekankan unsur rasionalitas (Descartes) atau yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik (teori tabularasa, Locke). Freud justru mengemukakan pandangan yang revolusioner dengan mengemukakan bahwa manusia dikendalikan oleh naluri instingtual yang irasional. Freud juga mengangkat aspek ketidak-sadaran (id) sebagai aspek penting dalam aktivitas mental. Freud mengemukakan bahwa factor ketidak-sadaran sebagai aspek yang dominan dalam aktivitas mental manusia. Manusia tidak selalu baik, karena manusia dikendalikan oleh dua naluri, yaitu: naluri hidup (cinta) dan naluri kematian (destruktif). Naluri pertama mengarahkan sikap dan hubungan yang baik dan harmoni dengan orang lain, sedangkan yang kedua mengarahkan sikap negative dan destruktif. 


B. Asumsi  Dasar tentang Manusia dalam Psikoanalisa Freud

Psikoanalisa adalah suatu aliran besar dalam psikologi, dan perkembangan aliran ini tidak bisa dilepaskan dari pemikiran filsafat Barat Klasik dan Modern.
Dalam Psikoanalisa Freud juga ada semacam pertentangan dari dua arus pemikiran: di satu sisi ia menekankan aktivitas mind (pikiran), akan tetapi di sisi lain teorinya sangat dipengaruhi paradigm positivism yang semestinya menolak dimensi tak teramati secara langsung. Pengaruh positivis itu terlihat juga dari pendangannya tentang ilmu pengetahuan yang bebas dari nilai-nilai (etis dan religius), serta pandangan yang evolusionis ditunjukkan dengan pentingnya penelusuran sejarah hidup dalam menjelaskan faktor psikis manusia (maksudnya pasien), sedangkan determinisme ditunjukkan dengan mengemukakan peran id-ego-super ego, serta pengalaman masa bayi dalam menentukan perilaku. 

Kerangka pemikiran Hjelle tentang asumsi manusia (9 polaritas) pada aliran psikoanalisa Freud,

1. Kebebasan – Determinisme
Freud adalah seorang determinis dapat dibuktikan melalui pandangannya yang mengatakan bahwa perbuatan manusia (tingkah-laku, pikiran, perasaan, aspirasi) ditentukan oleh dorongan-dorongan naluriah, terutama oleh dorongan seksual dan agresi.

2. Rasionalisme-Irasionalisme
Freud menyatakan bahwa faktor irasional naluri tidak sadar diterima sebagai faktor dominan dalam menentukan sikap dan pribadi manusia.

3. Holisme – elementalisme
Teori id-ego, siper ego dan interaksi antara ketiganya dalam menentukan individu, maka ada sedikit kecenderungan holistik. Namun melihat dominannya unsur psikis dan masa lalu (0-6 tahun) dalam penentuan pribadi manusia, maka unsur holistiknya tidak terpenuhi, yang dominan adalah elementalisme.

4. Konstitusionalisme – Environmentalisme
Konsep Freud mengenai energi psikhis, naluri, prinsip kesenangan dan Id sebagai unsur warisan masa lalu sebagai basis struktur. Lingkungan pada masa kanak-kanak sangat menentukan masa depan seseorang.

5. Berubah – Tidak berubah
Teori perkembangan Freud didasarkan atas pendekatan genetis, artinya kepribadian masa dewasa ditentukan pada masa kanak-kanak. Namun demikian, terapi psikoanalisis (dimensi masa lalu) berguna untuk mengetahui sumber dari masalah-masalah yang dihadapi masa sekarang, artinya mengetahui masa lalu dapat menyelesaikan masalah sekarang.

6. Subjektivitas - Objektivitas
Unsur subjektivitas dan objektivitas berpengaruh dalam psikoanalisa Freud. Namun unsur subjektiv (emosi, moralitas, rasionalitas, kecenderungan naluriah) lebih dominan dalam menentukan hidup/kepribadian seseorang disisi lain unsur objektif (trauma/represi) yang terjadi sekarang juga diakui.

7. Proaktivitas - Reaktivitas
Freud menjelaskan perbuatan/tingkah laku manusia dengan mengacu pada dimensi dalam sebagai penyebab dari tingkah laku itu. Manusia reaktif sejauh semua naluri memiliki objek eksternal yang bertindak sebagai stimulus untuk suatu perbuatan.

8. Homeostasis – Heterostasis
Freud menganggap bahwa semua tingkah laku manusia diatur oleh kecenderungan untuk mengurangi ekstasi yang diakibatkan oleh ketegangan. Id selalu cenderung mengekspresikan diri, sementara subjek selalu berusaha menghindari ketegangan yang timbul dari dorongan nafsu naluriah. Individu tidak berusaha untuk mengaktualisasikan diri, dan berada dalam keseimbangan. Jadi manusia dalam posisi homeostasis.

9. Hakekat manusia dapat diketahui – tidak dapat diketahui
Menurut Freud hakikat manusia dapat diketahui melalui ilmu pengetahuan. Ada hukum-hukum yang mengatur kehidupan psikis manusia, karena dimensi dalam manusia dapat diketahui melalui metode psikoanalisa (hermeneutika). Psikoanalisa disebut juga sebagai seni interpretasi, maksudnya bagaimana mengintrepetasi hal-hal yang tidak sadar yang muncul dalam bentuk mimpi maupun salah ucap. Ketidak-sadaran merupakan konsep kunci pada teori psikoanalisa Freud dan mengisi sebagian besar pikiran kita, sedangkan kesadaran hanya sebagian kecil saja.


C. Asumsi Hermeneutika dan Psikoanalisa

Asumsi utama pendekatan interpretasi adalah bahwa tingkah laku manusia pada hakikatnya mengandung makna. Dalam pandangan pendekatan intrepretatif terdapat hubungan logis antara tingkah laku dengan tujuan. Karena itu tingkah laku seseorang dapat dijelaskan dengan mengemukakan tujuannya. Menurut Dilthey, adalah “verstehen” yaitu kemampuan manusia untuk saling memahami berdasarkan pengalamannya sendiri. Ada beberapa asumsi dasar yang terkandung dalam verstehen ini, yaitu :

1. Memahami adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan manusia sehari-hari. Sebab tanpa melakukan interpretasi terhadap tingkah laku orang lain, manusia tidak bisa bertindak atau mengarahkan tingkah lakunya untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Tindakan (action) dan gerak gerik tubuh (gesticulation) serta tutur kata atau suara hanya merupakan “isyarat” (signs).

3. Manusia memiliki kemampuan untuk menembus lapisan luar itu sampai pada dorongan internal (motivasi, tujuan, makna hidup) dan dapat memahaminya.

4. Kemampuan pemahaman tidak terbatas pada tindakan perseorangan (individual actions) yang terbatasi ruang dan waktu tertentu, akan tetapi dapat menjangkau gejala yang lebih menyeluruh, seperti : sandiwara, acara TV, tatanan ekonomi dan peradaban.

5. Dua orang yang berada dalam lingkungan (konteks) historis yang berbeda dapat saling memahami karena keduanya merupakan “bagian” dari satu “pemahaman kolektif” yang memuat semua “fakta maknawi”.


D. Metode Hermeneutika dan Analisis Mimpi

Dalam cerita mitologi Yunani, Oedipus, putra seorang raja, yang kehadirannya telah lama ditunggu-tunggu sebagai pewaris kerajaan, harus dibunuh karena menurut ramalah Orakel, suatu saat Oedipus  akan membunuh ayahnya sendiri. Menghindari hal itu, pengawal istana akhirnya membuang Oedipus jauh ke tengah hutan belantara, karena tidak sampai membunuhnya. Kemudian, Oedipus ditemukan oleh orang lain dan dipelihara sampai remaja. Suatu ketika  tanpa ia sadari, ia membunuh ayahnya dan kemudian memperistri ibunya (ratu). Peristiwa ini terjadi tanpa ia, ibunya, dan orang lain mengetahui sama sekali. Kisah ini menceritakan tragedy nasib dan ketidaksadaran. Freud kemudian menjadikan kisah ini sebagai konsep/teori dalam psikoanalisanya.

Freud menggunakan tentang simbolisasi, penyingkapan (condensation), pengalihan dan sebagainya untuk menganalisis mimpi dalam mengembangkan teori-teorinya. Freud awalnya menerapkan metode hipnotis dan kemudian menggunakan asosiasi bebas dan analisis mimpi. Metode hipnotis diterapkan untuk menangani (menghilangkan/memunculkan) kasus-kasus histeria. Hipnotis ini ia pelajari dari Charcot, neurology Prancis terkenal. Freud bersama Josef  Breur menemukan pemicu histeria bersifat psikologis dan penderita umumnya tidak mengingat kejadiannya.

Mengapa asosiasi bebas dan tafsiran atas mimpi itu begitu penting bagi psikoanalisa? Freud mengemukakan beberapa alasan tentang ini antara lain:

1) Mimpi terjadi ketika tidur, saat kesadaran melepaskan cengkeramannya dan membuat hal-hal yang tertekan lepas dari kekangan, karena mimpi merupakan jalan utama untuk mengerti lebih baik dalam berbagai hal tentang ketidaksadaran.

2) Freud sadar bahwa metode hipnotis yang diterapkannya semula terlalu otoriter, terlalu memaksa untuk mengerti tentang situasi/dunia ketidaksadaran seseorang.

3) Mimpi sering berkaitan dengan masalah-masalah seksual yang berasal dari regresi masa kanak-kanak. Masalah ini hanya bisa diselesaikan melalui analisis mimpi dan asosiasi bebas.

4) Mimpi adalah ekspresi harapan-harapan, dengan mengeksplorasi nafsu-nafsu tersembunyi yang disimbolisasikan dalam mimpi,maka simbol-simbol tersebut dapat dijelaskan.


E. Manusia dan Simbol

Manusia dalam kehidupannya senantiasa berhadapan dengan simbol: simbol dalam matematika, simbol dalam agama, simbol dalam seni, simbol dalam bahasa dan sebagainya. Simbol merupakan lambang atau tanda. Tanda mempunyai hubungan langsung dengan maknanya. Tanda biasanya berhubungan dengan tindakan, sedangkan simbol atau lambing tidak selalu menstimulus orang untuk bertindak. Misalnya lampu merah sebagai tanda berhenti. Bendera adalah simbol, bendera merah putih adalah simbol negara Indonesia. Manusia menggunakan simbol karena ia memiliki kesadaran dan kemampuan simbolisasi. Kemampuan simbolis adalah kegiatan esensial dari akal budi manusia yang membuat kontak manusia terhadap dunia.

Langer membedakan secara formal 2 macam simbol yaitu simbolisme diskursif dan simbolisme presentasional. Simbolisme diskursif adalah symbol yang cara penangkapannya dengan menggunakan intelek, tidak bersifat spontan dan penyampaiannya bersifat sistematis dan logis. Contohnya menjelaskan peristiwa WTC di New York harus dijelaskan sejak awal, tanggal, jam, proses penyerangan, dan akibatnya. Simbolisme presentasional adalah simbol yang cara penangkapannya tidak bersifat logis dan bertahap , tetapi secara langsung dan spontan. Misalnya keindahan alam, kecantikan/ketampanan seseorang maupun keindahan musik.

Dalam buku Freud “Interpretasi Mimpi” (1900/1965) ada beberapa anjuran yang dapat membantu penafsiran mimpi, seperti:

1) Analisis mimpi memerlukan kerja keras dan ketekunan.

2) Perlu jarak waktu antara analisa dengan penafsiran, jarak itu diharapkan member kemungkinan munculnya wawasan yang segar.

3) Mimpi sering terjadi dalam kelompok-kelompok yang memiliki tema yang sama. Suatu wawasan yang muncul dalam sebuah mimpi, boleh jadi mengungkapkan keseluruhan rangkaian mimpinya.

4) Hal yang kelihatannya remeh dan dangkal yang muncul dalam mimpi dapat saja menggambarkan sesuatu yang mendalam dan sesuatu yang amat tersembunyi.

5) Perlu memperhatikan semua hal yang dikemukakan dalam mimpi, meski hal-hal yang tampaknya remeh sekalipun.

F. Teori Kritis yang Emansipatoris

Jurgen Habermas adalah seorang pemikir teori kritis (Mazhab Frankfurt) yang sangat meminati psikoanalisa. Minatnya terutama bukan mengenai ajaran tentang ketidak-sadaran (id-ego-super ego), melainkan sebagai metode untuk membebaskan manusia dari ketidak-sadarannya. Dalam bukunya, Knowledge and Human Interest, dalam bab Self Reflection as Science: Freud’s Psychoanalytic Critique of Meaning. Habermas berupaya memperlihatkan bagaimana metode psikoanalisa berfungsi sebagai kritik, bagaimana psikoanalisa melakukan praktek terapi (penyembuhan). Yang khas dari Habermas adalah penafsirannya terhadap psikoanalisa yang dilihatnya bukan hanya sebagai terapi akan tetapi  juga sebagai praksis emansipatoris. Habermas menunjukkan ketajaman psikoanalisa dalam membedah ketidak-sadaran dan irasionalitas dari suatu kehidupan sadar dan rasional(Bab III, 214-274).

Habermas (Madzhab Frankurt) mengkritik paradigma positivisme: tentang pandangan kesatuan ilmu pengetahuan dan ilmu bebas nilai (value free), khususnya model rasio masyarakat ilmiah dan industri modern yang disebut dengan rasio teknis-instrumental. Habermas manunjukkan sifat irasional atau ideologis yang tersembunyi dalam paradigma positivisme (teori tradisional). Teori kritis tidak bertujuan untuk menentukan prinsip-prinsip umum atau aturan-aturan metodologis, akan tetapi justru mecoba menyingkap asumsi-asumsi tersembunyi dan ideologi tersembunyi dalam paradigma positivisme. Karena itu Teori Kritis dikatakan bersifat emansipatoris.

Perbedaan antara Teori Tradisional dengan Teori Kritis dapat dirumuskan sebagai berikut:

Teori Tradisional Teori Kritis

Tuntutan objektivitas dan netralitas, tanpa mempertanyakan asumsi-asumsi yang terkandung didalamnya, dikritik oleh teori kritis untuk mempertahankan status quodan bersifat ideologis (palsu).

Kritis terhadap masyarakat: mempertanyakan struktur masyarakat dan dimensi sosial ilmu pengetahuan.

Tuntutan universalitas ilmu dilihat oleh teori kritis sebagai Berpikir secara historis. Bertolak dari tradisi Hegel dan Marx, maka teori dilihat berkaitan denga situasi pemikiran dan sosial tertentu.
Memisahkan teori dengan praksis: tidak memikirkan implikasi teori-teori sosial Mengaitkan teori dengan praktek: antara rasio teoritis dan rasio praktis. Teori harus melayani transformasi masyarakat.

Menyadari kemungkinan setiap teori jatuh menjadi ideologi kelompok tertentu. Seperti teori tradisional menjadi ideologi kaum kapitalis.

Rasio teknis-instrumental yang digunakan sejak zaman Pencerahan dianggap tidak sesuai dengan tuntutan dan tujuan dari rasio yang sebenarnya. Pencerahan (aufklarung) bertujuan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman alam, cengkeraman mitos dan membangun masyarakat rasional yang bebas dari penindasan dan berkeadilan. Adorno melalui dialetika negatifnya, mengemukakan kecenderungan filsafat untuk mencari titik tolak yang mutlak dalam metafisika dan epistemologi. Adorno menolak adanya konsep yang mutlak itu, dengan alasan segala sesuatu berinteraksi dengan negasinya (dialetika Hegel). Lagipula filsafat yang tunggal cenderung hanya akan melanggengkan status quo (konformistis) dan totaliter.

Perbedaan antara Scientific Theories (paradigma positivisme) dengan Critical Theories (Habermas) dapat dijelaskan sebagai berikut (Guba, 1990):

Scientific Theories Critical Theories

Tujuan Nomotetis:

memanipulasi dunia eksternal Emansipasi dan pencerahan, menyadarkan represi terselubung, sehingga membebaskan, menemukan kepentingan nyata/ sejati masyarakat (individu).
Struktur kognitif Mengobjektivasi,teori mencerminkan realitas/ objek Refleksi, teori bagian dari yang dideskripsikan.

Konfirmasi Empiris dan eksperimen sebagai legitimasi verifikasi Secara kognitif teori diterima jika teori mampu bertahan oleh proses evaluasi rumit; apakah teori benar-benar reflektif.

Meskipun terdapat asumsi-asumsi dan pengaruh positivisme pada Freudianis seperti kesatuan dan kesemestan self, determinisme dan mekanisme tingkah laku berdasarkan dinamika id-ego-super ego, akan tetapi dalam hal tertentu asumsinya lebih dekat dengan teori kritis. Dengan mendasarkan dengan pemilahan di atas, habermas dapat dikelompokkan dalam kelompok ilmu hermeneutis dan ilmu kritis. Psikoanalisa justru dijadikan sebagai metode untuk mendiagnosis masalah patologiindividual/ sosial, dimana hasil diagnosia itu diharapkan dapat mengemansipasi dan mencerahkan individu/ masyarakat. Jadi hermeneutika-dalam bagi psikoanalisa dapat dlihat sebagai seni manafsirkan dan sekaligus sebagai psikopatologi.

Elizabeth Wright dalam artikelnya “moder psychoana lysis Criticism” dalam Ann Jefferson dan David Robery(1982) mengemukakan bahwa dimensi pengobatan/perawatan (psikopatologis) adalah tujuan utama dari psikoanalisa yang dilakukan melalui dialog (percakapan). Lalu dialog itu dapat dijadikan sebagai refleksi diri dan praksis pembebasan (gangguan komunikasi pada Habermas). Dengan istilah yang sangat terkenal Habermas menyatakan psikoanalisa sebagai “refleksi-diri metodis”.

G. Psikoanalisa dan Hermeneutika-Dalam

Refleksi diri metodis diasumsikan dapat mengungkap berbagai bentuk parapraxis (latah) dan mimpi-mimpi yang maknanya terselubung. Parapraxis, istilah Freudian yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan ‘Kelatahan Freudian’. Adalah kesalaham-kesalahan seperti: melupakan nama orang, melupakan sesuatu yang hendak dilakukan, salah ucap atau salah tulis, salah baca atau salah dengar, kehilangan atau terkadang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya; kecelakaan yang diakibatkan kecerobohan, salah ingat adalah bentuk kesalahan yang tidak disengaja. Semua peristiwa itu mengungkapkan kerja pikiran tak sadar, yang berhasil muncul melalui penyamaran sebagai akibat “defence mechanism” yang cara kerjanya mirip seperti cara kerja mimpi. Teori analisis mimpi, seksualitas masa kanak-kanak dan salah ucap dikemukakan Freud tahun 1896.

Menurut teori psikoanalisa mimpi memiliki peran yang sangat penting di dalam kehidupan kita. Freud menggunakan teorinya tentang simbolisasi, penyingkapan (condensation), pengalihan dan lain sebagainya untuk menganalisis mimpi. Teori nya tentang ‘kelatahan Freudian’ ia kemukakan dalam buku Psychpathology of Everyday Life, (1901)sedangkan analisis mimpi dalam The Interpretation of Dreams (1900). Freud membedakan antara isi mimpi dengan kegiatan mimpi (dream work). Yang pertama berkaitan dengan apa yang muncul dalam impian; sedangkan yang kedua adalah proses dengan cara-cara apa arti mimpi yang sebenarnya diganggu atau dikacaukan oleh mekanisme pertahanan diri (defence mechanism).

Habermas tertarik dengan analisa mimpi yang dilakukan Freud. Habermas mengemukakan bahwa psikoanalisa adalah satu bentuk interpretasi (art interpretendi). Freud melakukan tafsir mimpi seperti seorang ahli filologi yang mencoba menafsirkan teks-teks kuno. Mimpi adalah teks-teks yang akan ditafsirkan, sementara orang yang bermimpi sebagai pengarang/ pembuat teks. Teks-teks mimpi yang dihasilkan aneh dan tampaknya menyimpan teka-teki mengenai pengarang dan inilah yang perlu disingkap oleh hermeneutika itu.Hermeneutika dalam (depth hermeneutics, Tiefenhermeneutiek) sejajar dengan seni interpretasi psiklogi dalam (Psikologianalisa). 

Habermas juga mengidentikkan analisis mimpi dengan menafsirkan teks filologi. Bedanya adalah:

Pertama, bila penafsiran teks sifatnya transparan dan diasumsikan jujur sedangkan  mimpi-mimpi bersifat kacau dan terselubung. Mimpi merupakan language games yang kacaubalau, sehingga tidak jelas pola linguistiknya, pola interaksi dan ekspresi-ekspresinya. Psikoanalisis justru mencoba untuk memahami teks-teks yang terdistrosi dan distorsinya sendiri.
Kedua, teks menggunakan bahasa (language games) sehari-hari yang sesuai dengan aturan kebahasaan, sedangkan mimpi adalah teks yang menggunakan bahasa atau language-games yang tidak sesuai dengan aturan kebahasaan (kacau).

Konsep ‘sensor dan ‘resistensi’ termasuk konsep yang menarik perhatin Habermas. Dalam berbagia tulisannya Habermas senantiasa  berusaha menemukan bentuk pengetahuan yang ‘dogmatis’ atau tidak kritis (ideologis). Pengetahuan yang tidak kritis itu oleh Karl Marx dan para pengikutnya biasanya disebut ‘kesadaran palsu’ atau ‘ideologi’. Paradigma positivisme yang dianggap mapan mempertahankan status quo dan menutup diri dengan menganggap dirinya sebagai satu-satunya metode untuk menemukan kebenaran. Verifikasi menjadi kriteria ilmiah atau alat sensor. Dalam perspektif kaum Neo-Marxis (Mazhab Frankfurt), sikap ini akhirnya membawa positivisme terperangkap jadi ideologi. Psikoanalisa, menurut Hebermas, justru dapat menganalisis dan memberi penjelasan mengenai fenomena ini.

Habermas dan Freud yang mengambil contoh mimpi sebagai keadaan patalogis yang diambil dari kehidupan normal (waras). Apa yang tidak dapat dilakukan sewaktu bangun (sadar), diterjemahkan dalam teks mimpi. Sebagai hermeneutika-dalam, psikoanalisa mengambil dua tugas utama, yaitu: menerjemahkan dari gambaran-gambaran mimpi yang penuh rahasia tersebut menjadi makna yang jelas bagu kehidupan nyata. Kedua mempelajari mengapa terjadi penipuan diri dalam mimpi itu.Jadi tugas hermeneutika dalam adalah: Pertama, mempelajari teks yang terdirtorsi dengan cara melakukan refleksi dengan menelusuri kejadian teks mimpi itu. 

Teks mimpi ditulis dalam bentuk simbol-simbol, metafor-metafor, alegori-alegori, atau bentuk selubung semantis lainnya. Seorang yang menerapkan ‘hermeneutika-dalam’ harus masuk kebalik selubung itu untuk menemukan maksud sebenarnya.Kedua, hermeneutika-dalam dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan mengapa teks itu ditulis dalam selubung semantis? Untuk menjawab ini hermeneutikus  berhadapan dengan fenomena ‘resistensi’ dan ‘sensor’ yang mengakibatkan distorsi itu. Ada hasrat-hasrat yang disensor dalam mimpi. Habermas menjelaskan apa yang disebut resistensi oleh Freud, sebagai sesuatu yang menunjukkan adanya konflik yang disebabkan adanya dua dorngan yang saling bertentangan. 

Freud mengemukakan bahwa kompromi konflik itu muncul dalam bentuk mimpi yang terdistorsi dan bentuk simbolis yang kacau. Habermas kemudian menghubungkan sensor mimpi dengan sensor sosial. Sensor mimpi berkaitan dengan suatu kekuatan yang mendominasi individu selama tidurnya. 

Habermas juga membedakan antara “bahasa publik” dengan “bahasa privat”. Ia juga berpendapat bahwa kekuatan yang bekerja pada individu juga berhubungan dengan represi sosial. Sensor tidak hyanya berkaitan dengan masa kini, teks mimpi juga harus menelusuri masa silam (masa kanak-kanak) sehingga ada kemiripan tugas seorang hermeneutikus dengan tugas arkeolog.
Hermeneutika dalam psikoanalisa menurut Habermas sama dengan hermeneutika yang dipraktekkan dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya dalam praktek komunikasi. Habermas membedakan dua dua dimensi dalam praksis hidup sosial manusia, yaitu: Pertama, “praksis kerja” yang bertujuan mengontrol dan melakukan proses-proses alam atau proses yang diobjektifkan; Kedua, “praksis komunikasi” yang bertujuan untuk mencapai saling pengertian antar individu (intersubjektif). 

Hermeneutika menjadi pengantar untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam komuniaksi dua pihak yang dibatasi oleh bahasa,simbol-simbol, aturan-aturan, batas budaya, dan waktu. Hermeneutika berperan menghadapi teks yang terdistorsi dari teks normal. Distorsi itu bisa timbul karena pembatasan-pembatasan komunikasi eksternal. Hermeneutika psikoanalisa dapat dimasukkan bukan dalam kategori komunikasi untuk mencapai keadaan saling pengertian intersubjektif, melainkan dalam kategori komunikasi yang membimbing ke arah “refleksi diri”.Refleksi diri atau kritik terhadap diri sendiri dapat menjadi proses penyembuhan. Sesuatu yang ada dalam ketidak-sadaran dapat dimasuki (accessible) oleh kesadaran.

Ada tiga alasan Habermas untuk menyatakan bahwa “pengetahuan analitis” sebagai refleksi diri. Pertama, pengetahuan ini memiliki dua dimensi yang sejajar, yaitu dimensi kognitif dan dimensi afektif-motivasional. Kedua, pasien diharapkan tidak menghubungkan penyakitnya dalam penyakit jasmani dalam melakukan praktek terapi, melainkan dengan dirinya sendiri, sehinggaia harus punya tanggung jawab moral bagi pemulihannya. 

Ketiga, analisis harus dapat menghayati peran pasien. Karena itu, ia harus kompeten dalam bidangnya, sehinggga tidak terjadi kesalahan analisis yang berdampak pada “transferensi”, yaitu usaha mengidentifikasi diri dengan pasiennya dan penyakiynya.Sejak Horkheimer teori kritis berciri historis dan berfungsi dalam pembentukan (building) masyarakat. Habermas meyakini adanya prinsip-prinsip universal yang berlaku pada komunikasi. teori kritis mampu mendorong masyarakat untuk melakukan refleksi diri dan karena itu teori kritis menduduki kursi “analis”.

Teori psikoanalisa oleh pemikir feminis, seperti Juliet Mitchel (1975), mengemukakan pentingnya teori Freudian untuk memahami mekanisme penindasan patriarkal. Kemudain para feminis psikoanalis berupaya mengembangkan bentuk-bentuk psikoanalisa yang berpusat pada pengalaman dan pandangan kaum perempuan. Gilligan (1982) mengemukakan adanya bias laki-laki dalam model-model psikologis tentang perkembanga moral yang ada. 

Sementara itu Karen Horney, yang dikenal sebagai tokoh psikologi feminis, menyusun suatu pandangan yang holistik-dinamis yang didalamnya kekuatan/ daya individu, pengaruh masyarakat, pengaruh masalalu dan sekaran saling terintegrasi. Psikoanalisa telah mendorong munculnya aliran feminis psikoanalisa, di samping terpengaruh teori Freud, sebagian tokoh-tokohnya mengkritik teori Freud. Karen Horney adalah salah satu tokoh yang mengkritik teori Freud dan dianggap sebagai tokoh psikologi feminis yang mencoba menerapkan konsep gender ke wilayah psikologi. Teori Horney tentang neorosis jauh lebih kontruktif dan optimistik daripada teori Freud. Horney mengemukakan, “Kitalah yang menyebabkan neorosis dan kita sendirilah yang lebih mampu mengatasinya”.

Berbagai konsep yang muncul dalam lingkungan feminis psikoanalisa, seperti: lembaga keibuan yang dianggap memapankan status dan peran (dominasi laki-laki), perempuan sebagai laki-laki yang dikebiri, perempuan sebagai lelaki yang tidak lengkap (penis envy), sedangkan klitoris sebagai pengganti yang tidak memadai, jelas sebagai term yang diturunkan psikoanalisa.


H. Kritik Terhadap Psikoanalisa

Psikoanalisa adalah teori yang paling banyak mendapat kritik. Kritik itu pertama muncul dari upaya pembaruan terhadap psikoanalisa Freud dari tokoh-tokoh yang disebut neo-Freudian, seperti : Jung dan Adler. Kritik kedua berkaitan dengan permasalahan motodologis (epistemologis) seperti kritik tentang kurangnya bukti empiris serta data klinis yang akurat, data yang tidak terseleksi dari awal dan sampel yang tidak representative. Karena itu psikoanalisa dianggap tidak memenuhi kriteria keilmiahan.

Grumbaum menyatakan bahwa salah satu kelemahan psikoanalisa adalah data empiris yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan kurang atau tidak representative. Menurutnya sangat mungkin respon pasien dikarenakan oleh sugesti dan harapan dari analisis. Ia mengusulkan perlunya kelengkapan data agar hipotesis psikoanalisa bias divalidasiuntuk masa yang akan dating khusunya dari data penelitian diluar setting klinis. Meskipun data dan penelitian ekstra klinis diperlukan sebagaimana dikemukakan Shevrin, data itu harus reliable karena tidak mungkin ada pengujian dengan cara lain. Selain dianggap kurang dalam data empiris kekurangan lain adalah bahwa eksperimen tidak menggunakan kelas control dan hasil observasi tidak didokumentasikan dengan baik.

Psikoanalisa juga disebut sebagai seni penafsiran yang membuka kemungkinan menemukan makna baru yang sebelumnya tidak disadari. Metode hermeneutika sebenarnya memiliki banyak persamaan dengan metode fenomenologi yang juga berusaha untuk mengungkapkan makna suatu fenomena. Metode hermeneutika diterapkan juga dalam bidang psikologi kepribadian. Misalnya digunakan untuk mengukur motivasi prestasi. Tes ini menggunakan sejumlah gambar dan individu diminta membuat satu narasi yang didasarkan pada gambar yang ada. Lalu narasi dianalisis dan dijadikan dasar untuk menentukan tingkat motivasi individu. Dalam menafsirkan narasi ini si ahli mengaitkan dengan latar belakang pendidikan, social budaya dan lainnya.

Dengan mempertimbangkan factor social budaya dan konteks lingkungan individu dalam menentukan factor psikologisnya, sesungguhnya pertimbangan ini bertentangan dengan pandangan positifisme ilmiah. Bila Freud konsisten dengan penggunaan metode hermeneutika maka tidak diperlukan lagi asumsi seperti : objektifisme, kepastian sebagaimana pada paradigm positivisme pada psikoanalisa. Artinya kriterian keilmiahan untuk psikoanalisa tidak harus sama dengan behaviorisme atau aliran lain. Adapun pandangan ini dikenal dengan language game dalam posmodernisme.

Meskipun teori psikoanalisa mendapat penerimaan yang cukup luas dan demikian popular ditengah masyarakat, namun tetap muncul keraguan serta pertanyaan, khususnya tentang kriteria keilmiahan dan konseptual. Freud sendiri masih bingung tentang hal tersebut, namun latarbelakang Freud sebagai seorang neurofisolog mendorongnya untuk memahami masalah kejiwaan dari dimensi biologis atau fisiologis manusia.

I. Psikoanalisa dan Perkembangan Teori Baru

Kritik yang paling radikal dan mempengaruhi pandangan dan perkembangan psikoanalisa selanjutnya adalah kritik dari reality therapy dari William Glasser dan kritik psikoanalisa structural dari Dr. Jacques Lacan. William dengan lantang menolak adanya penyakit jiwa, ia menyatakan bahwa apa yang disebut sebagai gangguan kejiwaan pasien sesungguhnya disebabkan oleh ketidak mampuan seseorang menghadapi kenyataan hidupnya. Ia tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya. Tuntutan itu diantaranya cinta dan harga diri, sehingga pasien tidak dapat bertanggung jawab lagi.
Lacan awalnya mendukung psikoanalisa Freud dan anggota Socie’te Psychoanalitique de Paris. 

Karena terpengaruh aliran struktualisme Ferdinand de Saussure, lalu ia menafsirkan psikoanalisa dari perspektif struktualisme. Penerapan pemahaman psikoanalisa berdasarkan teori struktualisme menjadikan psikoanalisa tidak “orthodoks”. Dengan pendekatan baru Lacan telah mendekontruksi psikoanalisa Freud. Dengan menghilangkan konsep pengalaman tak sadar yang bersifat naluriah yang dianggap mendahului bahasa pada Freudian. Kemudian Lacan, seorang psikoanalis yang dipengaruhi interaksi juga oleh ahli bahasa Jakobson, mengungkapkan titik-titik hubungan antara Freudianisme dengan struktualisme sebagai jalan untuk mempertegas dasar linguistik dengan paikoanalisa.

Lacan kemudian mengembangkan gagasan tentang pesan simbolis untuk interaksi pasien dan analisis dari pengertian fundamental komunikasi melalui tanda-tanda atau bahasa. Lacan juga mengembangkan konsep ego (subjek) dengan menyatakan bahwa subjek tidak eksis selagi ia tidak berada dalam / memiliki kesadaran, yaitu selagi ia tidak membentuk konsep tentang dirinya sendiri.









BAB III
PENUTUP

A. Simpulan

Metode hermeneutika dan fenomenologi adalah metode alternatif bagi paradigma positivisme yang banyak digunakan dalam melakukan penelitian khususnya masalah humaniora dan sosial-budaya. Psikoanalisa adalah aliran/mazhab psikologi yang menggunakan metode hermeneutika untuk menyingkapkan hal-hal tidak sadar yang terdapat dalam mimpi (ketidak-sadaran) tetapi dianggap sebagai satu teks. 
Dalam Psikoanalisa Freud juga ada semacam pertentangan dari dua arus pemikiran: di satu sisi ia menekankan aktivitas mind (pikiran), akan tetapi di sisi lain teorinya sangat dipengaruhi paradigma positivism yang semestinya menolak dimensi tak teramati secara langsung. Psikoanalisa juga disebut sebagai seni penafsiran yang membuka kemungkinan menemukan makna baru yang sebelumnya tidak disadari. Metode hermeneutika sebenarnya memiliki banyak persamaan dengan metode fenomenologi yang juga berusaha untuk mengungkapkan makna suatu fenomena.







Daftar Pustaka

Lubis, Akhyar Yusuf. 200 4. Filsafat Ilmu dan Metodologi Posmodernis. Bogor: AkaDemiA

2 Responses to "Makalah filsafat mengenai hermeneutika dan psikoanalisa"

  1. Terima kasih.
    bisa belajar lagi mengenai filsafat hermeneutika dan psikonanalisa

    ReplyDelete
  2. Dan sampai sekarang masih bingung tentang filsafat

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel